Ya, memang aku tak mengerti apa yang ada
di kedalaman
Aku selalu berada di atasnya, kini aku
duduk di karang yang menjulang
Dan sahabatku, ia hanya berputar-putar
mengelilingiku, senang
Memang badai telah usai, kini aku mencoba
mengobati sakit dari bulu hitam, patah
Hari itu tak ada bintang, dan aku
berbicara dengan sahabatku, di lautan, lagi
Apa yang ia katakan bukanlah seperti saat
kita menemukan garis awal dahulu
Kalimat demi kalimat, lengkungan demi
lengkungan, dan titik demi titik
Menjadikan aku semakin tak memahami apa
arti kedalaman
Aku tak merasakan sedikitpun kerasnya
angin yang selama ini aku hadapi
Ternyata sahabatku lah yang lebih mengerti
betapa sakit seharusnya aku
Di ketinggian aku memang merasakan
bagaimana sendiri, sendiri
Dan aku bertanya seberapa sakitkah
seharusnya diriku disana
Ia mengatakan bahwa kami tak boleh
tersayat oleh badai bersama
“Biar aku yang tersayat”, kataku
Dalam pikirku hanya terlintas kata “Tak
Mengapa” dan “Waktu”.
Aku terus berpikir, ia tak akan siap
dengan angin di depan
Mungkin, bukan itu, yang ia pikirkan
sekarang
Aku hanya menerka apa yang ada di dalam
kepalanya
Apa yang seharusnya aku siulkan dari
paruh kecilku ini?
Aku hanya meminta sebuah rasi bintang yang
mungkin membantuku
Tapi hari itu langit tak bercahaya oleh
titik-titik kecilnya
Aku pun tak memahami baris kesembilan dari
tinta – tinta ini
Waktu, begitulah hal itu berakhir, yang
dalam arti tak berakhir
Aku membodohkan diriku sendiri ketika
terbang bersama sakit ini
Kupaksa diri untuk mengepakkan sisa bulu
hitamku membawa lagi tubuh kecil ini
Di perjalanan ini aku melihat lagi, ia
masih berputar-putar mengelilingi karang itu
Kini itu yang membuatku lemah, yang
kuyakini sediri dengan karib pundi hawa
Ialah yang menguatkanku selama ini
“Tenanglah, dan bersabar, apa yang kau
minta, sudah ada pada yang kau beri”
“Keraguanku”
Read Me
ReplyDeleteRead Me
ReplyDeleteGo
ReplyDelete