November 14, 2012

Petualangan Kedua

Catatan kedua tentang sahabat, puisi pertama aku sembunyikan
Ya, memang aku tak mengerti apa yang ada di kedalaman
Aku selalu berada di atasnya, kini aku duduk di karang yang menjulang
Dan sahabatku, ia hanya berputar-putar mengelilingiku, senang

Memang badai telah usai, kini aku mencoba mengobati sakit dari bulu hitam, patah
Hari itu tak ada bintang, dan aku berbicara dengan sahabatku, di lautan, lagi
Apa yang ia katakan bukanlah seperti saat kita menemukan garis awal dahulu
Aku tak mengerti apa yang berjalan berada di dalam kepalaku


Kalimat demi kalimat, lengkungan demi lengkungan, dan titik demi titik
Menjadikan aku semakin tak memahami apa arti kedalaman
Aku tak merasakan sedikitpun kerasnya angin yang selama ini aku hadapi
Ternyata sahabatku lah yang lebih mengerti betapa sakit seharusnya aku

Di ketinggian aku memang merasakan bagaimana sendiri, sendiri
Dan aku bertanya seberapa sakitkah seharusnya diriku disana
Ia mengatakan bahwa kami tak boleh tersayat oleh badai bersama
“Biar aku yang tersayat”, kataku
Dalam pikirku hanya terlintas kata “Tak Mengapa” dan “Waktu”.

Aku terus berpikir, ia tak akan siap dengan angin di depan
Mungkin,  bukan itu, yang ia pikirkan sekarang
Aku hanya menerka apa yang ada di dalam kepalanya
Apa yang seharusnya aku  siulkan dari paruh kecilku ini?

Aku hanya meminta sebuah rasi bintang yang mungkin membantuku
Tapi hari itu langit tak bercahaya oleh titik-titik kecilnya
Aku pun tak memahami baris kesembilan dari tinta – tinta ini
Waktu, begitulah hal itu berakhir, yang dalam arti tak berakhir

Aku membodohkan diriku sendiri ketika terbang bersama sakit ini
Kupaksa diri untuk mengepakkan sisa bulu hitamku membawa lagi tubuh kecil ini
Di perjalanan ini aku melihat lagi, ia masih berputar-putar mengelilingi karang itu
Kini itu yang membuatku lemah, yang kuyakini sediri dengan karib pundi hawa
Ialah yang menguatkanku selama ini
“Tenanglah, dan bersabar, apa yang kau minta, sudah ada pada yang kau beri”
“Keraguanku”



3 comments: