November 15, 2012

"Less" is more meaningful than "Big" : Note for My Dear

“Less” is more meaningful than “Big”

Dulu waktu aku masih TK (hmm masa-masa paling berkesan ya? :D ) aku pernah diberi uang saku ibuku 500 rupiah (uang kertas gambarmu :p), tapi harus hemat, gak boleh dibelikan semua (jaman murah apapun). Benar-benar pertama kali tau apa itu uang. Tapi aku bingung. Kenapa?

Suatu saat pas aku mau jajan, aku pilih jajanan yang harganya sebenernya Rp100 (wow, murah). Aku berikan uang 500-ku ke penjualnya.Saat penjualnya mengambilkan kembaliannya, aku pergi. Karena apa? Hahaha, karena aku pikir satu uang kertas itu cuma bisa ditukar satu jajan. Jadi, seharusnya aku rugi 400 rupiah (namanya anak kecil pasti gak ngrasa, hehe).


Aku ceritakan kejadian di warung tadi ke ibuku. Ibuku cuma ketawa mendengar semacam kepolosanku. Apa yang ibuku lakukan di hari-hari selanjutnya?

Karena berpikir aku belum bisa bertransaksi dengan uang, ibuku hanya memberiku uang saku Rp100 per hari.

“Aku” adalah “Didin”. Di masa kecilku aku tidak pernah mengatakan “Aku” tetapi dengan nama kecilku “Didin”

Cerita berlanjut . . .

Dulu aku berangkat sekolah dengan temanku bernama Candra (hmm kayak nama temen sekamarku sekarang :D), sekarang mungkin gak kenal aku lagi.

Lupakan. Bukan main point.

Dulu, aku berangkat sekolah diantar ayahku dengan sepeda motor Yamaha Alfa (jadul). Tapi, seiring waktu aku diharuskan pergi sekolah jalan kaki.

Suatu hari saat perjalananku udah hampir 3/4 atau mungkin 7/8 perjalanan, aku sadar ada satu hal yang aku lupakan atau tepatnya ibuku yang lupa. Aku sadar aku gak menemukan uang sakuku yang cuma 100 itu dimana pun, disaku ataupun di tas kecilku. Apa yang aku lakukan?

Aku berlari kembali ke rumah dengan membendung air mata (hmm cengeng ya? ^_^) dan benar-benar mengalir waktu aku benar-benar sampai dihadapan ibuku.

“Ibu lupa, Didin gak dikasih uang!”

Itulah kata-kata yang sampai saat ini aku dan ibuku ingat. Setiap ibuku cerita peristiwa itu, kulihat matanya selalu berkaca-kaca. Begitupun aku sekarang.

“Iya, le. Maaf!”

Oh ya, dulu waktu kecil aku gak bisa Bahasa Jawa (gak tau kenapa), cuma bisa Bahasa Indonesia.

Ibuku langsung menenangkan tangisanku dengan pelukannya (cieilah). Aku cuma nangis. Tapi aku tetep pingin sekolah.

Akhirnya, setelah aku berhenti nangis, aku diantar ayahku (yang sebenarnya mau pergi ke tempat kerja) ke TK. Ya, dengan digandeng ayahku aku masuk ke kelas. Aku terlambat untuk pertama kali. :D

Dengan uang 500 aku hanya mendapat pengalaman gak bisa berhitung. Tapi, gara-gara uang 100, aku mendapat apa yang dimaksud kasih sayang orang tua.

“Less” is more meaningful.

Sial. Kamu paksa aku cerita sampai mewek-mewek nih. -,-

No comments:

Post a Comment